Terbongkar, Selama Liburan Imlek Warga Muslim Uighur Dipaksa Makan Daging Babi - SUARAMERDEKA.CO.ID

Senin, 11 Februari 2019

Terbongkar, Selama Liburan Imlek Warga Muslim Uighur Dipaksa Makan Daging Babi

 Terbongkar, Selama Liburan Imlek Warga Muslim Uighur Dipaksa Makan Daging Babi


SUARAMERDEKA.CO.ID ■ Warga muslim di wilayah barat Cina, Xinjiang termasuk warga Uighur dipaksa menyantap daging babi dan minum minuman beralkohol di sejumlah acara yang digelar selama liburan Tahun Baru Imlek, beberapa waktu lalu. Demikian klaim warga  Xinjiang dan Uighur seperti diungkap Radio Free Asia (RFA).

Dikutip dari DailyMail, Senin 911/2/2019) warga di Prefektur Otonomi Ili Kazakh mengaku diundang untuk makan malam di mana daging babi dan alkohol disajikan. Laporan Radio Free Asia, pejabat setempat mengancam akan mengirim warga ke “kamp pendidikan ulang” jika menolak undangan.

Foto yang dikirim ke RFA juga menunjukkan seorang pejabat Cina di Kota Yining mengunjungi rumah warga muslim dan membagikan daging babi mentah pada hari Senin, jelang Tahun Babi. Tak itu saja, warga muslim pun dipaksa memajang dekorasi Tahun Baru Cina seperti lentera merah di pekarangan rumah.

Baik babi maupun alkohol dilarang dalam Islam dan Tahun Baru Imlek pun biasanya tidak dirayakan oleh umat Islam Xinjiang. "Orang Kazakh di Xinjiang tidak pernah makan babi," kata seorang warga yang tidak disebutkan namanya kepada RFA. "Mulai tahun lalu, beberapa orang terpaksa makan daging babi dan merayakan festival Han ini."

“Perayaan kami Idulfitri dan Iduladha. Festival Musim Semi untuk orang Cina Han dan pemeluk agama Buddha," kata seorang perempuan Kazakh bernama Kesay kepada RFA.  Ia melanjutkan, warga yang tidak memasang dekorasi atau lentera dituding bermuka dua. “Kita bisa dikirim ke kamp pendidikan ulang jika menolak." Para pejabat mulai mengirim daging babi ke sekitar 80 persen warga Kazakh di wilayah Savan sejak akhir 2018.

Dilxat Raxit, juru bicara kelompok pengasingan Kongres Uighur Dunia, mengatakan mereka telah menerima laporan serupa. "Menurut informasi kami, pemerintah Cina meningkatkan kampanye untuk mengasimilasi warga Uighur ke dalam budaya Han Cina," katanya. "Mereka memaksa orang-orang Uighur merayakan Tahun Baru Imlek dan memasang kuplet dekoratif."

Mereka juga memaksa warga Uighur  minum alkohol untuk menunjukkan mereka tidak menganut  agama yang ekstrem dan menghormati budaya tradisional Cina. Sebelumnya PBB memperkirakan ada sekitar satu juta warga Uighur dan minoritas muslim lainnya yang diyakini ditahan dalam penahanan di luar hukum di Xinjiang. Perkiraan PBB ini memicu kemarahan internasional.

Wilayah yang sama menjadi rumah bagi lebih dari 10 juta warga etnis Uighur. Tahanan yang dianggap menolak bekerja sama ditempatkan di sel isolasi dan mengalami pemukulan selain  kekurangan makanan. Mantan tahanan yang telah bebas  juga mengklaim mereka dipaksa makan daging babi dan mengonsumsi minuman beralkohol sebagai hukuman di dalam kamp.

Sementara itu pihak Beijing sendiri awalnya membantah keberadaan kamp pendidikan ulang. Namun Oktober lalu ketua pemerintah Xinjiang, Shohrat Zakir   kepada kantor berita resmi Xinhua mengatakan, kamp tersebut tak lebih dari fasilitas efektif untuk melindungi negara dari terorisme sekaligus  memberikan pelatihan kejuruan bagi warga Uighur.

Sedangkan laporan yang diterbitkan LSM Kristen, ChinaAid menyebut umat Islam di Xinjiang dipaksa  ambil bagian dalam perayaan tahun baru pada pertengahan  Februari lalu. Dan Oktober tahun lalu, pejabat di Urumqi, ibu kota Xinjiang melancarkan kampanye menentang produk halal. Muslim radikal Uighur  sendiri dalam beberapa tahun terakhir dianggap sebagai ancaman bagi perdamaian di kawasan dengan  mayoritas Han Cina.


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2017 SUARAMERDEKA.CO.ID | All Right Reserved