MUI Himbau Umat Islam Muhasabah di Malam Tahun Baru


SUARAMERDEKA.CO.ID ■ Jelang malam pergantian tahun 2018-2019, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung meminta kepada masyarakat khususnya umat muslim untuk tidak merayakan malam pergantian tahun dengan cara hura-hura. Budaya menyalakan petasan dan meniup terompet dinilai dapat mengganggu kenyamanan masyarakat. Hal ini seperti dikatakan Wakil Ketua MUI Kota Bandung, KH. Maftuh Kholil, Rabu (26/12/2018).

"Silahkan saja merayakannya, tapi tentu dengan kegiatan positif. Tidak memubazirkan harta, hentikan menyulut petasan karena itu dapat mengganggu kenyamanan orang lain yang sedang beristirahat di malam hari," ujarnya.

MUI sendiri dalam waktu dekat akan mengeluarkan surat edaran kepada masyarakat meminta agar mengisi perayaan itu dengan bermuhasabah (intropeksi diri) dan tidak melakukan arak-arakan di jalan seperti yang kerap dilakukan kebanyakan orang.

"Justru ini harus dijadikan intropeksi diri, apa yang sudah kita perbuat terhadap agama dan bangsa ini. Tidak ada larangan merayakan tahun masehi, namun dengan kegiatan yang wajar-wajar saja," ungkapnya.

Sementara itu, mengenai adanya larangan merayakan malam tahun baru masehi, lantaran bertentangan dengan ajaran Islam, dirinya menegaskan bahwa hal itu tidak dapat dijadikan pegangan. Ia justru menyebut bahwa baik tahun Hijriyah maupun Masehi sama-sama digunakan umat Islam dalam menentukan waktu.

"Tahun masehi itu tahun Islam juga. Dua-duanya merupakan waktu yang didasarkan ilmu pengetahuan, seperti melalui hitungan bumi berdasarkan peredaran matahari (syamsiyah Solar) serta melalui hitungan peredaran bulan (lunar). Jadi tentu tidak bertentangan asal diisi dengan kegiatan yang positif," ujarnya.

Tahun hijriyah kata dia, digunakan dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya, seperi ibadah haji, puasa dan lainnya. Sementara kalender masehi menggunakan sistem perhitungan bumi berdasarkan peredaran matahari. Ini pun dikatakannya digunakan umat Islam untuk menentukan waktu-waktu ibadah yang bersifat mahdhah, seperti shalat lima waktu.

"Kalender hijriyah yang menggunakan perhitungan bulan (lunar) dan kalender masehi dengan perhitungan bumi berdasarkan peredaran matahari (solar) sama-sama digunakan umat Islam. Jadi tidak ada masalah merayakannya, hanya saja harus diisi dengan hal-hal yang positif tidak mengganggu kenyamanan dan sifatnya hura-hura," tandasnya, seperti dikutip galamedianews.com

Belum ada Komentar untuk " MUI Himbau Umat Islam Muhasabah di Malam Tahun Baru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel